Pakaian Tradisional Jepang
Kimono
Kimono (着物?) adalah
pakaian tradisional
Jepang. Arti harfiah kimono adalah
baju atau sesuatu yang dikenakan (
ki berarti
pakai, dan
mono berarti
barang).
Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf "
T", mirip
mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke
pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian
kanan harus berada di bawah kerah bagian
kiri. Sabuk kain yang disebut
obi dililitkan di bagian
perut/
pinggang, dan diikat di bagian
punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah
zōri atau
geta.
Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan
istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang
disebut
furisode.
[1] Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan
furisode untuk menghadiri
seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta
pernikahan,
upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena
sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono.
[2] Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan
Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (
ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (
ryokan).
Sebelum dikenalnya pakaian Barat, semua pakaian yang dipakai orang Jepang disebut
kimono. Sebutan lain untuk kimono adalah
gofuku (呉服?). Istilah
gofuku mulanya dipakai untuk menyebut pakaian orang negara
Dong Wu (bahasa Jepang : negara Go) yang tiba di Jepang dari daratan
Cina .
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Kimono
Yukata
(浴衣?, baju sesudah mandi) adalah jenis
kimono yang dibuat dari bahan kain
katun tipis tanpa pelapis. Dibuat dari kain yang mudah dilewati
angin, yukata dipakai agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah
mandi malam berendam dengan air panas.
Menurut urutan tingkat formalitas, yukata adalah kimono nonformal yang dipakai
pria dan
wanita pada kesempatan santai di
musim panas, misalnya sewaktu melihat pesta
kembang api,
matsuri (
ennichi), atau menari pada perayaan
obon. Yukata dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah.
Gerakan dasar yang harus dikuasai dalam
nihon buyo
selalu berkaitan dengan kimono. Ketika berlatih tari, penari mengenakan
yukata sebagai pengganti kimono agar kimono berharga mahal tidak rusak
karena keringat. Aktor
kabuki mengenakan yukata ketika berdandan atau memerankan tokoh yang memakai yukata. Pegulat
sumo memakai yukata sebelum dan sesudah bertanding.
Musim panas berarti musim pesta kembang api dan matsuri di Jepang.
Jika terlihat orang memakai yukata, berarti tidak jauh dari tempat itu
ada matsuri atau pesta kembang api.
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Yukata
Furisode
(振袖?) adalah
kimono berlengan lebar yang dikenakan wanita muda yang belum menikah. Dibuat dari bahan berwarna cerah, motif kain berupa
bunga dan
tanaman, keindahan
musim,
binatang, atau
burung yang digambar dengan tangan memakai teknik
yuzen. Kain bisa bertambah mewah dengan tambahan bordiran
benang emas.
Bukaan di bagian lengan kimono yang berdekatan dengan
ketiak disebut
furiyatsuguchi (振八つ口?). Bukaan tersebut sengaja tidak dijahit hingga membentuk
kantong lengan baju yang disebut
tamoto (袂?) hingga ke bagian ujung lengan kimono. Lebar
tamoto pada furisode bisa mencapai 114 cm atau menjuntai hingga sekitar
pergelangan kaki.
Menurut urutan tingkat formalitas, furisode adalah kimono paling formal setara dengan
kurotomesode,
irotomesode, dan
homongi. Furisode dikenakan sebagai pakaian terbaik untuk
pesta perkawinan (ketika hadir sebagai tamu atau sebagai baju pengantin wanita),
miai, dan upacara resmi, seperti
seijin shiki,
wisuda, atau resepsi sesudah wisuda (
shaonkai).
Alas kaki untuk furisode adalah
zōri berhak tinggi.
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Furisode
Hakama
hakama
Hakama (袴?) adalah
pakaian luar tradisional
Jepang yang dipakai untuk menutupi
pinggang sampai
mata kaki.
Dipakai sebagai pakaian bagian bawah, hakama merupakan busana resmi pria untuk menghadiri acara formal seperti
upacara minum teh,
pesta pernikahan, dan
seijin shiki. Anak laki-laki mengenakannya sewaktu merayakan
Shichi-Go-San.
Montsuki yang dikenakan bersama hakama dan
haori merupakan setelan baju pengantin pria tradisional.
Di kalangan olahraga bela diri tradisional seperti
kendo,
aikido, dan
kyūdō, hakama dipakai oleh pria dan wanita. Ketika tidak sedang bergulat,
pesumo mengenakan kimono dan hakama ketika tampil di muka umum. Di kalangan
Shinto, setelan kimono dan hakama adalah pakaian resmi
kannushi dan
miko.
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Hakama
Obi
Obi (帯?) adalah sabuk pinggang dari kain yang dipakai sewaktu mengenakan
kimono atau
keikogi.
Obi untuk kimono umumnya dibuat dari kain
sutra.
Kimono pria dikenakan bersama obi dari kain kaku yang sempit, atau kain
lentur yang panjang. Kimono wanita dikenakan bersama obi berhiaskan
corak tenun atau bordir. Obi dililitkan seperti halnya memakai
setagen.
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Obi_%28sabuk%29
Tomesode
Tomesode (留袖?) adalah
kimono paling formal untuk
wanita yang sudah
menikah. Tomesode dari
kain krep berwarna hitam disebut
kurotomesode (tomesode hitam), sedangkan tomesode dari kain krep berwarna disebut
irotomesode (tomesode warna). Menurut urutan tingkat formalitas, tomesode adalah pakaian paling formal setara dengan
baju malam. Istilah
tomesode berasal tradisi wanita yang sudah menikah atau sudah menjalani
genbuku untuk memperpendek lengan
furisode yang dikenakannya semasa gadis.
Kurotomesode hanya dikenakan sebagai pakaian formal ke
pesta pernikahan sanak keluarga, pesta-pesta, serta upacara yang sangat resmi. Kimono jenis ini merupakan pakaian yang dikenakan istri
nakōdo sewaktu hadir di pesta pernikahan. Bahan untuk kurotomesode adalah kain krep
hitam tanpa motif tenun.
Corak pertanda keberuntungan seperti
burung jenjang atau
seruni
berada pada bagian bawah kimono. Posisi corak kain disesuaikan dengan
usia pemakai, semakin berumur pemakainya, corak kain makin diletakkan di
bawah.
Lambang keluarga berjumlah lima buah: satu di punggung, sepasang di belakang lengan, dan sepasang di dada bagian atas.
Berbeda dengan kurotomesode, irotomesode tidak selalu harus dihiasi
lima buah lambang keluarga. Sesuai formalitas acara yang ingin dihadiri
pemakai, irotomesode cukup dilengkapi tiga buah lambang keluarga (satu
di punggung, sepasang di bagian belakang lengan) atau cukup satu di
bagian punggung. Irotomesode dikenakan sebagai pakaian formal sewaktu
diundang ke
pesta pernikahan
sanak keluarga, pesta dan upacara resmi. Kain untuk irotomesode bisa
berupa kain krep tanpa motif tenun atau kain krep dengan motif tenun
seperti
monishō,
rinzu, dan
shusuji.
Wanita yang belum menikah juga boleh mengenakan irotomesode, namun bila sudah berumur atau ketika tidak ingin mengenakan
homongi.
Upacara resmi di istana kaisar dihadiri tamu dengan mengenakan
irotomesode. Hitam sebagai warna duka merupakan alasan tidak dipakainya
kurotomesode.
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Tomesode
Legenda Urban Kutukan
(Cerita Rakyat Jepang)
Iklan Kleenex terkutuk
Cuplikan tayangan iklan
Kleenex yang diduga terkutuk.
Tahun 1980-an,
Kleenex merilis tiga iklan berbahasa Jepang untuk produk tisunya, menampilkan seorang wanita berpakaian mirip
toga berwarna putih dan seorang anak kecil yang mengenakan kostum
oni
(setan Jepang), duduk di atas jerami. Iklan tersebut diiringi lagu
"It's a Fine Day" oleh Jane & Barton. Banyak pemirsa yang merasa
terganggu dengan iklan tersebut. Beberapa mengeluh bahwa lagu yang
dimainkan terdengar seperti teluh Jerman,
[8]
meskipun liriknya berbahasa Inggris. Karena keadaannya yang tidak
menyenangkan, beberapa rumor terkait para pelaku di balik layar beredar,
seperti kru yang tewas dalam kecelakaan, dan pemeran utamanya,
Keiko Matsuzaka dikabarkan meninggal, dibawa ke rumah sakit jiwa, atau mengandung anak setan.
[9]
Kisah Kamar Merah
adalah legenda internet mengenai pop-up
yang muncul di tampilan layar komputer korbannya. Tampilannya hanya
menampakkan suatu pintu merah dan rekaman suara "Apakah kamu suka ——?" (あなたは——好きですか? "Anata wa —— suki desuka?"?).
Pop-up tersebut terus muncul bahkan bila berusaha ditutup berkali-kali
sampai akhirnya pertanyaan terdengar lengkap: "Apakah kamu suka kamar
merah?" (あなたは赤い部屋が好きですか? "Anata wa akai heya ga suki desuka?"?).
Orang yang melihat pop-up tersebut ditemukan tewas, sementara tembok
kamarnya dicat merah dengan menggunakan darahnya sendiri. Legenda
tersebut berawal dari animasi flash
tentang seorang anak laki-laki yang dikutuk setelah menyaksikan pop-up
tersebut, dan menjadi terkenal setelah ditemukan bahwa gadis yang
menggorok temannya sendiri di Sasebo tahun 2004 memarkahi situs video tersebut dan menjadi penggemarnya.
Kutukan Taman Inokashira
Di
Taman Inokashira,
Tokyo,
ada suatu danau dan penyewaan perahu dayung bagi para pengunjung.
Diyakini bahwa bila sepasang kekasih menaiki perahu bersama-sama maka
hubungan mereka akan segera berakhir.
[10] Legenda tersebut dihubungkan dengan suatu kuil di dekatnya yang didedikasikan untuk
Benzaiten. Diyakini ia sangat pencemburu dan memutuskan hubungan pasangan kekasih yang menaiki perahu.
[11]
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Legenda_urban_Jepang
Permainan Jepang
Batu Gunting Kertas


Batu Gunting Kertas
Batu-Gunting-Kertas adalah sebuah
permainan tangan dua orang. Permainan ini sering digunakan untuk
pemilihan acak, seperti halnya pelemparan
koin,
dadu, dan lain-lain. Beberapa permainan dan
olahraga menggunakannya untuk menentukan peserta mana yang bermain terlebih dahulu. Kadang ia juga dipakai untuk menentukan
peran dalam permainan peran, maupun dipakai sebagai sarana
perjudian. Permainan ini dimainkan di berbagai belahan dunia.
Di kalangan anak-anak
Indonesia, permainan ini juga dikenal dengan istilah "Suwit Jepang". Di
Indonesia dikenal juga permainan sejenis yang dinamakan
suwit.
Fukuwarai
Fukuwarai (福笑い?) adalah
permainan tradisional yang dimainkan saat
tahun baru di
Jepang. Permainan dilakukan dengan menggunakan gambar
wanita berwajah lucu (disebut
okame atau
otafuku). Namun gambar bagian-bagian wajah, seperti
alis,
mata,
hidung, dan
bibir berada pada guntingan-guntingan kertas yang terpisah. Permainan ini serupa dengan permainan
Tempel Ekor Keledai.
Dengan memakai
kain penutup mata,
pemain berusaha meletakkan bagian-bagian wajah pada tempatnya.
Peletakan bagian-bagian wajah di tempat yang bukan semestinya,
kemungkinan dapat menghasilkan gambar lucu yang mengundang tawa.
Pemenang permainan ini adalah pemain yang dianggap membuat gambar paling
lucu, atau pemain yang berhasil meletakkan bagian-bagian wajah di
tempat yang benar.
Asal usul permainan ini tidak jelas.
[1] Namun permainan ini diperkirakan dimainkan karena sesuai dengan
peribahasa Warau kado ni wa fuku kitaru (Keberuntungan datang di keluarga yang tidak berhenti tertawa) yang merupakan harapan orang Jepang untuk tahun yang baru.
[1] Permainan ini kemungkinan mulai dimainkan sejak paruh kedua
zaman Edo, dan melekat sebagai tradisi tahun baru sejak
zaman Meiji. Dari zaman Meiji hingga pertengahan
zaman Showa, permainan ini banyak dimainkan orang Jepang sewaktu merayakan tahun baru di rumah bersama keluarga.
Hanetsuki
Foto wanita bermain hanetsuki
Hanetsuki (羽根突き, 羽子突き arti harfiah: tepuk bulu?) adalah permainan tradisional
Jepang berupa saling berbalasan memukul
kok tanpa
jaring. Permainan mirip
bulu tangkis ini dimainkan dengan
raket yang disebut
hagoita. Kok dibuat dari biji buah
mukuroji (pohon familia
Sapindaceae) yang dicucuk dengan
bulu unggas berwarna-warni. Tradisi bermain hanetsuki di kalangan anak perempuan dipercaya membawa
nasib baik, dan merupakan salah satu tradisi
tahun baru di Jepang.
Permainan sepak menyepak
bulu unggas yang diberi pemberat
uang logam dikenal di
Cina sekitar
abad ke-14. Di Jepang, permainan tersebut mulai dikenal pada
zaman Muromachi, dan diperkirakan sebagai asal usul permainan
hanetsuki yang dikenal sekarang ini. Menurut buku harian
Kanmon Nikki dari zaman Muromachi, kalangan aristokrat dan pelayan wanita dilaporkan senang bermain
hanetsuki di dalam istana kaisar. Pemain yang kalah harus menghidangkan
sake kepada pemain yang menang.
Kendama
Kendama (けん玉 atau 剣玉?) adalah nama
mainan asal
Jepang berupa sebuah bola berlubang (
tama) yang diikat seutas
tali ke sebuah
palang (
ken) yang bentuknya mirip sebuah
palu. Di Jepang, permainan ini dilombakan dalam kompetisi tingkat nasional. Kendama juga tersedia untuk orang
kidal.
Bagian atas ujung tangkai
ken disebut
kensaki (ujung
ken), berbentuk lancip seperti paku untuk memasukkan bola. Pada ujung
sisi kiri dan sisi kanan palang terdapat cekungan yang dipakai untuk
menangkap bola. Cekungan yang diameternya lebih besar disebut
ōzara (piring besar), sedangkan cekungan yang diameternya lebih kecil disebut
kozara (piring kecil). Cekungan pada ujung tangkai
ken bagian bawah disebut
chūzara (piring sedang), walaupun sebenarnya berdiameter lebih kecil dari
kozara.
Kendama diciptakan pada tahun
1918 oleh Hamaji Egusa asal kota
Kure,
Prefektur Hiroshima. Pada awalnya, permainan ini diberi nama "Nichi Getsu Ball".
[1] Sejak abad ke-16, orang Perancis juga sudah memiliki permainan ketangkasan serupa yang disebut
bilboquet (
bil berarti "bola" dan
boquet berarti "pohon kecil"). Berlainan dengan kendama, bilboquet hanya memiliki cekungan di kedua ujung tongkat.
[2]
Asosiasi Kendama Jepang (Nihon Kendama Kyōkai) merupakan organisasi
nirlaba yang berusaha menyebarluaskan permainan kendama, mengatur
standar teknik dan trik permainan, serta menentukan tingkatan kemahiran
dan ranking pemain. Asosiasi juga menjual kendama yang sesuai standar
asosiasi.
Hagoita

Hagoita (羽子板?) adalah
raket kayu berbentuk persegi panjang di
Jepang. Ada
hagoita yang dapat dipakai orang untuk bermain
hanetsuki, dan ada pula
hagoita yang hanya untuk hiasan.
Raket ini dulunya hanya dipakai untuk bermain tepuk-tepukan
kok tanpa jaring. Namun
hagoita perlahan-lahan berubah makna menjadi
jimat penangkal bahaya. Pada
zaman Edo,
hagoita berhias gambar-gambar aktor
kabuki menjadi sangat populer dan sekarang dianggap sebagai benda seni bernilai tinggi di
Tokyo.
Di
Sensō-ji, Tokyo dari
17 Desember hingga
19 Desember setiap tahunnya diadakan Pasar Hagoita yang ramai didatangi pengunjung. Kota
Kasukabe,
Prefektur Saitama dan Kota
Saitama Iwatsuki-ku merupakan pusat produksi hagoita dengan gambar timbul (
oshi-e hagoita) yang di dalamnya diisi
kapas.
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Permainan_Jepang
Seni di Jepang
Ikébana
Bunga yang dirangkai cara Ikebana
Ikébana (生花?) adalah
seni merangkai
bunga
yang memanfaatkan berbagai jenis bunga, rumput-rumputan dan tanaman
dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya. Ikebana berasal dari
Jepang tapi telah meluas ke seluruh dunia. Dalam
bahasa Jepang, Ikebana juga dikenal dengan istilah
kadō (華道?, ka, bunga; do, jalan kehidupan) yang lebih menekankan pada aspek seni untuk mencapai kesempurnaan dalam merangkai bunga.
Di dalam Ikebana terdapat berbagai macam aliran yang masing-masing
mempunyai cara tersendiri dalam merangkai berbagai jenis bunga. Aliran
tertentu mengharuskan orang melihat rangkaian bunga tepat dari bagian
depan, sedangkan aliran lain mengharuskan orang melihat rangkaian bunga
yang berbentuk
tiga dimensi sebagai benda
dua dimensi saja.
Pada umumnya, bunga yang dirangkai dengan teknik merangkai dari Barat (
flower arrangement) terlihat sama indahnya dari berbagai sudut pandang secara tiga dimensi dan tidak perlu harus dilihat dari bagian depan.
Berbeda dengan seni merangkai bunga dari Barat yang bersifat dekoratif, Ikebana berusaha menciptakan harmoni dalam bentuk
linier,
ritme dan
warna.
Ikebana tidak mementingkan keindahan bunga tapi pada aspek
pengaturannya menurut garis linier. Bentuk-bentuk dalam Ikebana
didasarkan tiga titik yang mewakili
langit,
bumi, dan
manusia.
Ukiyo-e
(浮世絵?) adalah sebutan untuk
teknik cukil kayu yang berkembang di
Jepang pada
zaman Edo yang digunakan untuk menggandakan
lukisan pemandangan, keadaan alam dan kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat. Dalam
bahasa Jepang, "ukiyo" berarti "zaman sekarang," sedangkan "e" berarti gambar atau lukisan.
Istilah ukiyo-e sekarang semata-mata digunakan untuk lukisan berwarna-warni (
nishiki-e) yang dihasilkan
teknik cukil kayu (
woodprinting), tetapi sebenarnya di zaman dulu istilah ukiyo-e juga digunakan untuk lukisan asli yang digambar dengan menggunakan
kuas.
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Seni_di_Jepang
Tarian Jepang
Tari Awa
(阿波踊り Awa Odori?) adalah
tari asal
Provinsi Awa (
Prefektur Tokushima),
Jepang yang ditarikan secara beramai-ramai di berbagai kota dan desa di
Prefektur Tokushima untuk menyambut perayaan
Obon. Setiap tahun tanggal 12-15 Agustus, tari Awa dilangsungkan di tengah kota
Tokushima.
Penari Awa menari dalam kelompok-kelompok yang disebut
ren sambil berpawai di jalan-jalan. Satu kelompok penari bisa terdiri dari lusinan penari. Tari Awa adalah sejenis
Bon Odori. Penari wanita menari dengan posisi tubuh tegak dan tangan yang digerak-gerakkan di atas kepala. Pria menari dengan
pinggul direndahkan, serta gerakan tangan dan kaki yang dinamis.
Musik pengiring menggunakan alat musik yang terdiri dari
shamisen, perkusi (
taiko dan
tsuzumi),
genta (
kane), dan
flute (
yokobue). Lagu yang dimainkan adalah lagu populer dari
zaman Edo yang berjudul "Yoshikono". Liriknya berupa ajakan kepada penonton untuk turut menari, "
Erai yatcha, erai yatcha, yoi yoi yoi yoi, odoru ahō ni miru ahō, onaji ahō nara odorana son son."
Lagu "Yoshikono" hanya digunakan untuk mengiringi kelompok tari Awa
yang terkenal, sedangkan kelompok tari Awa yang lain menari dengan
diiringi seruan "
Yatto sā Yatto saā".
Selain dipertunjukkan di Prefektur Tokushima, kelompok tari Awa asal
Tokushima sering berkeliling di kota-kota besar di Jepang (khususnya di
wilayah
Kanto). Di distrik
Suginami-ku,
Tokyo, tari Awa diselenggarakan kuil
Kōenji bersama pusat perbelanjaan di dekatnya.
Owara Kaze no Bon
(おわら風の盆?) adalah
festival tari Bon di
Yatsuo,
Toyama,
Prefektur Toyama,
Jepang dari
1 September hingga
3 September.
Diiringi lagu
minyō
berirama sedih "Etchū Owarabushi", tari Owara Kaze no Bon dibawakan
para penari melewati jalan-jalan kota Yatsuo yang mendaki dan menurun.
Penari wanita menari dengan gerakan yang lembut, sedangkan penari pria
menari dengan gagah. Tari diiringi melodi melankolis dari
shamisen dan alat musik gesek
kokyū, sementara lirik lagu dilantunkan oleh wanita berusia matang. Penari membawakan tari sambil membisu.
Ada tiga jenis penyajian tari Owara Kaze no Bon:
- Machinagashi: penari berkeliling di jalan-jalan kota bersama kelompok pemusik dan penyanyi (jikata)
- Wa Odori: tari dibawakan oleh penari yang membentuk lingkaran
- Butai Odori: tari dibawakan dibawakan di atas panggung yang berada di berbagai lokasi di dalam kota.
Festival Nebuta Aomori
(青森ねぶた祭り Aomori Nebuta Matsuri?) atau
Aomori Nebuta (青森ねぶた?) adalah
festival musim panas dari
2 Agustus hingga
7 Agustus di kota
Aomori,
Prefektur Aomori. Festival ini termasuk salah satu acara menyambut
Tanabata yang dilakukan di wilayah
Tohoku.
Nebuta adalah
lentera ukuran raksasa yang dibuat dari kerangka kayu berlapis
washi yang umumnya berbentuk boneka pemeran
kabuki atau
hewan. Nebuta diusung dengan
kendaraan hias untuk berpawai di jalan-jalan.
Festival ini setiap tahunnya diikuti lebih dari 3 juta peserta dan wisatawan.
[1] Bersama-sama dengan Tanabata di
Sendai, dan
Kantō di
Akita, Aomori Nebuta adalah salah satu dari tiga festival terbesar di wilayah
Tohoku. Dua festival nebuta terbesar di Prefektur Aomori adalah Aomori Nebuta dan
Hirosaki Neputa
Festival Yosakoi
YOSAKOI HARAJJUKU
(よさこい祭り Yasakoi Matsuri?) adalah
festival tari Yosakoi yang diadakan setiap tahunnya di kota
Kochi,
Prefektur Kochi pada
9 Agustus hingga
12 Agustus. Festival berlangsung selama 4 hari, dan berpuncak pada pentas utama
10 Agustus dan
11 Agustus. Malam sebelum pentas utama (9 Agustus) dimeriahkan oleh pesta
kembang api, dan 12 Agustus adalah hari kompetisi nasional.
Yosakoi adalah tari dengan ciri khas gerakan tangan dan kaki yang dinamis. Tari ini berkembang sebagai bentuk modern tari musim panas
Awa Odori. Sambil menari, di kedua belah tangan, penari pria dan wanita segala umur membunyikan
perkusi dari
kayu yang disebut
naruko. Mulanya,
naruko dipakai untuk mengusir burung-burung di sawah, namun sekarang menjadi pelengkap tari.
Penari dalam satu kelompok mengenakan kostum berupa
happi atau
yukata.
Kostum dan musik dipilih sesuai selera masing-masing kelompok yang
berusaha tampil seunik mungkin. Musik pengiring tari dapat merupakan
campuran musik daerah (
minyō) dicampur dengan musik
rock,
samba,
disko,
enka, atau genre musik yang lain sesuai selera, namun harus memasukkan melodi "Yosakoi Naruko Odori".
Kelompok penari Yosakoi menari di jalan utama kota Kochi (Otesuji),
alun-alun kota, dan pusat perbelanjaan Obiyamachi. Di dalam kota
setidaknya disediakan 9 lokasi kompetisi tari dan 6 lokasi pentas.
Festival ini dimeriahkan sekitar 19.000 peserta dalam 170 kelompok
penari.
[1]
Sejumlah peraturan yang mengatur para peserta, misalnya pembatasan
jumlah penari dalam satu kelompok (di bawah 150 orang), ukuran panggung
di
truk bak terbuka (
jigatasha), dan keharusan membawa
naruko sewaktu menari.
[
Nihon buyō

Nihon buyō (日本舞踊?, tari Jepang) adalah terjemahan bahasa Jepang untuk istilah bahasa Inggris
Japanese dance. Istilah "buyō" pertama kali diperkenalkan oleh
budayawan Tsubouchi Shōyō dan
Fukuchi Genichirō yang yang mengacu pada dua kelompok besar tari klasik Jepang:
mai (舞?) dan
odori (踊?).
Mai adalah menari diiringi
nyanyian atau musik tradisional dengan seluruh bagian telapak kaki yang tidak pernah diangkat melainkan diseret-seret (
suriashi),
walaupun kadang-kadang ada juga gerakan menghentakkan kaki. Gerakan
tari bisa dilakukan dengan berputar di dalam ruang gerak yang sempit
atau seluruh panggung sebagai ruang gerak. Jenis-jenis tari yang
tergolong ke dalam Mai:
Kagura,
Bugaku,
Shirabyōshi,
Kusemai,
Kōwakamai,
Noh (Nōgaku),
Jiutamai.
Odori adalah menari diiringi nyanyian atau musik tradisional
dengan kaki yang dapat bergerak bebas disertai hentakan kaki untuk
mengeluarkan suara, ditambah gerakan tangan yang disesuaikan dengan
ritme musik.
Nenbutsu Odori dan
Bon Odori merupakan contoh tari Jepang yang disebut Odori.
Noh
Noh atau No (Jepang:能 Nō) ialah bentuk utama drama musik Jepang klasik yang telah dipertunjukkan sejak abad ke-14. Noh tersusun atas mai (tarian), hayashi (musik) dan utai (kata-kata yang biasanya dalam lagu-lagu).Pelakon menggunakan topeng dan menari secara lambat. Zeami Motokiyo dan ayahnya Kan'ami membawa Noh kepada bentuk terkininya selama masa Muromachi.
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Tari_di_Jepang
Upacara Minum Teh

Ruangan untuk minum teh
Upacara minum teh (茶道 sadō, chadō?, jalan teh) adalah ritual tradisional
Jepang dalam menyajikan
teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut
chatō (茶の湯?) atau
cha no yu. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut
nodate.
Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara
minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum
teh yang disebut
chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih
lukisan dinding (
kakejiku),
bunga (
chabana), dan
mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.
Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai
seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan
pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara
berpikir,
agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (
chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.
Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun
dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang
secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama,
kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil
yang dihidangkan.
Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk
matcha yang dibuat dari
teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut
matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis
sencha disebut
senchadō.
Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut sebagai
ocha (teh). Istilah
ocha no keiko bisa berarti belajar mempraktekkan tata krama penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.
*SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Upacara_minum_teh_%28Jepang%29